Sabtu, 30 November 2013

BATU KARYA SUTARDJI CALZOUM BACHRI


  BATU   


batu mawar

  batu langit


    batu duka


      batu rindu


        batu janun


          batu bisu


kaukah itu


teka


teki


yang


tak menepati janji ?


Dengan seribu gunung langit tak 


runtuh dengan seribu perawan

hati takjatuh dengan seribu sibuk sepi tak mati 

dengan


seribu beringin ingin tak teduh. Dengan siapa aku 

mengeluh?


Mengapa jam harus berdenyut sedang darah tak 

sampa mengapa gunung harus meletus sedang langit 

tak sampai mengapa peluk


diketatkan sedang hati tak sampai mengapa tangan 

melambai


sedang lambai tak sampai. Kau tahu


batu risau
  

batu pukau
    

  batu Kau-ku

      batu sepi


        batu ngilu


          batu bisu


kaukah itu


teka


teki


yang


tak menepati


janji ?

GEMBALA KARYA M.YAMIN

   

  GEMBALA


Perasaan siapa tidak kan nyata
Melihatkan anak berlagu dendang
Seorang sahaja di tengah dendang
Tiada berbaju buka kepala
      Beginilah nasib anak gembala
      Berteduh di bawah kayu nan rindang
      Semenjak pagi meninggalkan kandang
      Pulang ke rumah di senja kala
Jauh sedikit sesayup sampai
Terdengar olehku bunyi serunai
Melagukan alam nan elok permai
      Wahai gembala di segara hijau
      Mendengar puputmu menurutkan kerbau
      Maulah aku menurutkan dikau

TANAH AIR. KARYA M.YAMIN

      TANAH AIR


Pada batasan, bukit barisan
Memandang aku, ke bawah memandang;
Tampaklah hutan rimba dan ngarai;
Lagi pun sawah sungai yang permai;
Serta gerangan, lihatlah pula,
Langit yang hijau bertukar warna
Oleh pucuk, daun kelapa;
Itulah tanah, tanah airku
Sumatera namanya, tumpah darahku

  Sesayup mata, hutan semata
  Begunung bukit, lemah sedikit
  Jauh di sana, di sebelah situ,
  Dipagari gunung satu persatu
  Adalah gerangan sebuah surga,
  Bukannya janat bumi kedua
  Firdaus melaju di atas dunia!
  Itulah tanah yang kusayangi,
  Sumatera namanya, yang kujunjungi

Pada batasan, bukit barisan
Memandang ke pantai, teluk permai;
Tampaklah air, air segala
Itulah laut, samudera hindia
Tampaklah ombak, gelombang berbagai
Memecah ke pasir, lalu berderai
Ia memekik, berandai-andai
“Wahai Andalas, Pulau Sumatera, harumkan nama Selatan Sumatera”

ANTARA KERAWANG DAN BEKASI KARYA KHAIRIL ANWAR

              ANTARA KEAWANG DAN BEKASI



Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
        Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
        Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
       Kami sudah coba apa yang kami bisa
       Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5        ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
       Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
       Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan        harapan
       atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
      Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
      Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
      Menjaga Bung Karno
      menjaga Bung Hatta
      menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

Jumat, 29 November 2013

INDONESIA TUMPAH DARAHKU KARYA M.YAMIN

       INDONESIA TUMPAH DARAHKU



Bersatu kita teguh
          Bercerai kita runtuh

          Duduk di pantai tanah yang permai
          Tempat gelombang pecah berderai
          Berbuih putih di pasir terderai
          Tampaklah pulau di lautan hijau
          Gunung-gunung bagus rupanya
          Dilingkari air mulia tampaknya
          Tumpah darahku Indonesia namanya                                                             
                                                                         

Lihatlah kelapa melambai-lambai
Berdesir bunyinya sesayup sampai
Tumbuh di pantai bercerai-cerai
Memagar daratan aman kelihatan
Dengarlah ombak datang berlagu
Mengejar bumi ayah dan ibu
Indonesia namanya. Tanah airku

Tanahku bercerai seberang-menyeberang
Merapung di air, malam dan siang
Sebagai telaga dihiasi kiambang
Sejak malam diberi kelam
Sampai purnama terang-benderang
Di sanalah bangsaku gerangan menompang
Selama berteduh di alam nan lapang

         Tumpah darah Nusa India
         Dalam hatiku selalu mulia
         Dijunjung tinggi atas kepala
         Semenjak diri lahir ke bumi
         Sampai bercerai badan dan nyawa
         Karena kita sedarah-sebangsa
         Bertanah air di Indonesia

KUMPULAN PUISI KHAIRIL ANWAR II

     PRAJURIT JAGA MALAM

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam

Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini




        HAMPA

kepada sri

Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut

Segala menanti.

YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS 

Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
Menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,

Malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu
Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;

Tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang
Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku.



PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO

Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh



      PENERIMAAN

Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

Kalau kau mau kuterima kau kembali
Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi



        RUMAHKU

Rumahku dari unggun-timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala nampak

Kulari dari gedong lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalan

Kemah kudirikan ketika senjakala
Di pagi terbang entah ke mana

Rumahku dari unggun-timbun sajak
Di sini aku berbini dan beranak

Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang
Biar berleleran kata manis madu
Jika menagih yang satu


        
      LAGU SIUL

Laron pada mati
Terbakar di sumbu lampu
Aku juga menemu
Ajal di cerlang caya matamu
Heran! Ini badan yang selama berjaga
Habis hangus di api matamu
‘Ku kayak tidak tahu saja



      CATATAN TAHUN 1946

Ada tanganku, sekali akan jemu terkulai
Mainan cahya di air hilang bentuk dalam kabut,
Dan suara yang kucintai ‘kan berhenti membelai.
Kupahat batu nisan sendiri dan kupagut

Kita – anjing diburu – hanya melihat sebagian dari sandiwara sekarang
Tidak tahu Romeo & Juliet berpeluk di kubur atau di ranjang
Lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu
Keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat.

Dan kita nanti tiada sawan lagi diburu
Jika bedil sudah disimpan, cuma kenangan berdebu;
Kita memburu arti atau diserahkan kepada anak lahir sempat.
Karena itu jangan mengerdip, tatap dan penamu asah,
Tulis karena kertas gersang, tenggorokan kering sedikit mau basah!



        MALAM DI PEGUNUNGAN

Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,
Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!



       TUTI ARTIC

Antara bahagia sekarang dan nanti jurang ternganga,
Adikku yang lagi keenakan menjilat es artic;
Sore ini kau cintaku, kuhiasi dengan susu + coca cola
Isteriku dalam latihan: kita hentikan jam berdetik.

Kau pintar benar bercium, ada goresan tinggal terasa
– ketika kita bersepeda kuantar kau pulang –
Panas darahmu, sungguh lekas kau jadi dara,
Mimpi tua bangka ke langit lagi menjulang.

Pilihanmu saban hari menjemput, saban kali bertukar;
Besok kita berselisih jalan, tidak kenal tahu:
Sorga hanya permainan sebentar.

Aku juga seperti kau, semua lekas berlalu
Aku dan Tuti + Greet + Amoi… hati terlantar,
Cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar.



       DERAI-DEAI CEMARA

cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

KUMPULAN PUISI KHAIIL ANWAR

     IBU

Pernah aku di tegur 

katanya untuk kebaikan
 
Pernah aku dimarah

katanya membaiki kelemahan

pernah aku diminta membantu 

Katanya supaya aku pandai

IBU......

pernah aku meajuk

katanya aku manja

Pernah aku melawan

katanya aku degil

pernah aku menangis 

Katanya aku lemah

IBU.....

setiap kali aku tersilap

Dia hukum aku dengan nasehat

Setiap kali aku kecewa

Dia bangun di  malam sepi lalu bermunajat

Setiap kali aku dalam kesakitan 

Dia ubati dengan penawar dan semangat

dan bila aku mencapai kejayaan

dia kata bersukurlah pada tuhan

NAMUN

Tidak pernah aku melihat air mata dukamu

mengalir di pipi mu

begitu kuatnya dirimu....

IBU....

Aku sayang padamu...

tuhanku....

Aku bemohon padamu 

Sejahterakanlah dia

Selamanya....


       DOA

Kepada pemeluk teguh

tuhan ku 
dalam termangu 
aku masih menyebut namamu

biar susah sungguh
mengingat kau penuh seluruh

cahayamu panas suci 
tinggal kedip lilin di kelam sunyi

tuhanku 
Aku hilang bentuk 
remuk

Tuhanku
Aku mengembara di negri asing

tuhanku
Dipintumu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling


HAMPA

Kepada sri

Sepi diluar, sepi menekan mendesak

lurus kaku pepohonan,, tak bergerak

sampai kepuncak,, sepi memagut

tak satu kuasa melepas-renggut

segala menanti,,menanti,,menanti

sepi

tambah ini menanti jadi mencekik

memberat-mencekung punda

sampai binasa segala,,,belum apa apa

udara bertuba,,,setan bertampik

inin sepi terus ada,,dan menanti


SAJAK PUTIH

buat tunanganku mirat

bersandar pada tari warna pelangi
kau depanku bertudung sutra senja
di hitam matamu kembang mawar dan melati
harum rambutmu mengalun bergelut senda

sepi menyanyi malam dalam mendoa tiba
meriak muka air kolam jiwa
dan dalam dadaku memerdu lagu
menarik menari seluruh aku

hidup dari hidupku,,pintu terbuka
selama matamu bagiku menengadah
selama kau darah mengalir dari luka
antara kita mati datang tidak
membelah....

buat miratku,,Ratuku! ku bentuk dunia sendiri
dan kuberi jiwa segala yang di kira
Orang mati di alam ini!
kucuplah aku terus,,kucuplah
dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku....


YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS

Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku



      TAK SEPADAN

Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros

Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka

Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka



AKU

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan akan akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi


CINTAKU JAUH DI PULAU

Cintaku jauh di pulau
Gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya

Di air yang tenang, di angin mendayu
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja.”

Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.